Seminar Kontekstualisasi Pendidikan Masyarakat Adat

“Akar masalah pendidikan bagi masyarakat adat atau di pedalaman BUKANlah KURANG GURU. Tapi yang lebih penting disebabkan kurikulum yang tidak relevan, kurangnya kapasitas dan perspektif guru yang menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap BUDAYA LOKAL dan RELASI DENGAN PERUBAHAN dan ancaman di SEKITAR kehidupannya” (Butet Manurung, SOKOLA RIMBA).

Kalimat di atas adalah petikan materi yang disampaikan oleh Butet Manurung dalam acara Seminar “Kontekstualisasi Pendidikan Masyarakat Adat” yang diselenggarakan oleh Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Malang (22/8/2017). Seminar tersebut diadakan dalam rangka turut mendukung Hilmar Faridupaya pengembangan pendidikan yang kontekstual bagi masyarakat adat. Pendidikan sejauh ini dipandang telah mengabaikan lokalitas dari masyarakat adat sehingga menghilangkan substansinya sebagai upaya pemanusiaan dan pembebasan manusia. Oleh karena itu, perlu menghidupkan dan melestarikan nilai kearifan dan humanisme dalam proses pendidikan.

Hadir sebagai pemateri seminar adalah beberapa aktivis dan akademisi yang concern terhadap eksistensi masyarakat adat. Seminar yang sedianya menghadirkan Dirjen Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid, sebagai keynote speaker ini dibagi dalam 2 (dua) sesi. Sesi pertama diisi oleh Dr. Herry Yogaswara dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Eko Cahyono dari Sajogyo institute dan Drs. H. Nur Hadi M.Pd, M.Si selaku dosen Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Malang yang menggButeteluti masyarakat Tengger. Sesi kedua menghadirkan Butet Manurung dari Sokola Rimba, Minna Susanna Seta yang mewakili Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Mudjianto selaku tokoh masyarakat Adat Tengger. Makalah yang disampaikan pemateri dapat diunduh di Web Jurusan Sosiologi.

Di akhir sesi, Seminar dilanjutkan dengan presentasi artikel-artikel hasil penelitian terkait kontekstualisasi pendidikan masyarakat adat untuk diseminasi pengalaman dan pelajaran dari berbagai hasil penelitian. Dari 43 artikel yang terdaftar, Sebanyak 23 artikel dipresentasikan dalam dua panel bertema Ekologi dan Pendidikan Masyarakat Adat dan Konflik Masyarakat adat dan implikasi sosialnya. Seminar ini dihadiri sekitar 100 lebih partisipan dari kalangan mahasiswa, akademisi dan praktisi pendidikan. Partisipan sangat antusias dan aktif dalam panel sehingga acara pun menjadi lebih lama demi menampung pertanyaan dan aspirasi dari partisipan. (AF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*