Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran Tower Buildings

Media pembelajaran merupakan salah satu aspek terpenting untuk menunjang proses pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran, siswa akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan oleh pihak pengajar, khususnya untuk anak yang baru saja menginjaTk sekolah dasar yang pada umumnya lebih gemar untuk bermain. Ketertarikan mereka terhadap dunia bermain sangat besar dibandingkan dengan ketertarikan mereka dalam bidang akademik, hal ini dikarenakan pada usia 6 sampai 12 tahun anak-anak cenderung lebih aktif dan lebih suka melakukan hal-hal secara langsung. Dan anak sekolah dasar merupakan awal dari pembentukan karakter, awal dari pendidikan formal yang mana mereka selalu menerima langsung mengenai apa yang telah disampaikan, namun dari penyampaian tersebut tidak banyak siswa yang mudah menerima apa yang telah disampaikan  karena sikap tanggap anak berbeda-beda seperti siswa yang lebih tanggap dengan penyampaian secara verbal, visual, dan pendengaran.

Akan tetapi, masih banyak sekolah yang memanfaatkan guru sebagai fasilitator utama dalam proses pembelajaran. Akibatnya, siswa pun banyak yang hanya mendengarkan dan cenderung lebih pasif, keterbatasan media pembelajaran yang dimiliki pihak sekolah pun menjadi faktor lain yang mengakibatkan anak sering merasa bosan dengan pembelajaran yang telah disampaikan karena itu akan dianggap monoton oleh siswa terutama pada siswa yang sekolah di daerah terpencil. Selain itu, pada sekolah yang ada di daerah terpencil, mereka harus siap menerima ketertinggalan dengan sekolah lain karena kurikulum yang mereka gunakan masih berupa KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pada siswa juga harus terbiasa dengan pembelajaran tanpa adanya gambar atau video yang ditampilkan pada monitor sebagai daya tarik bagi mereka.

Hal inilah yang memotivasi lima mahasiswa Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Sosial, Pendidikan Sosiologi atas nama Fais Quraniyanto (Sosiologi) sebagai ketua, Anggita Dyah Pitaloka (Sosiologi), Ameylia Pancawati (Sosiologi), Dinda Ayu Pebriana (Sosiologi), Fety Andila Arif Imanda Putri (Sosiologi) di bawah bimbingan Anggaunitakiranantika, S.Sos, M.Sosio untuk menciptakan sebuah media pembelajaran sebagai solusi dari masalah pembelajaran yang ada di daerah terpencil. Salah satu daerah terpencil yang menjadi fokus peneliti untuk terjun langsung ke lapang yaitu terletak di Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang dengan lima sekolah yang menjadi fokus utama peneliti. Alasan peneliti melakukan penerapan media pembelajaran di Desa Bandungrejo karena adanya keterbatasan media pembelajaran dan akses ke sekolah yang sulit untuk di tempuh. Media pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti di sekolah dasar yang berada Desa Bandungrejo adalah Media Pembelajaran Tower Buildings atau MEPE-TEBU.

MEPE-TEBU merupakan media pembelajaran yang mengkolaborasikan antara pembelajaran dengan permainan. Media tersebut terinspirasi dari permainan outdoor menggunakan alat yaitu Tower Buildings. Media tersebut terbagi menjadi tiga tipe media amtara lain tipe balok, tipe bambu, dan tipe kotak. Penerapannya dari ketiga tipe tersebut berbeda-beda. Tipe balok dalam penerapannya berupa siswa diarahkan untuk menyusun balok-balok membentuk menara kemudian mengarahkan siswa untuk mencari jawaban setelah mendengarkan sebuah soal. Jawaban yang mereka cari tertempel pada balok-balok yang telah mereka susun. Penerapan tipe bambu lebih sederhana yaitu dengan mengarahkan siswa menyusun menara menggunakan bambu-bambu dimana sebelumnya siswa menempelkan jawaban pada bambu itu kemudian disusun. Tipe kotak dalam penerapannya lebih sama dengan tipe bambu yaitu menempelkan jawaban terlebih dahulu tetapi perbedaannya terdapat pada pemindahan yang menggunakan sebuah tali yang dirancang seperti jaring laba-laba.

Keunggulan dalam media pembelajaran Tower Buildings adalah dalam tipe balok manfaatnya memudahkan pembelajaran tercangkup dalam satu waktu atau satu sesi pertemuan serta melatih konsentrasi dan memecahkan masalah. Sementara manfaat dari tipe bambu adalah melatih konsentrasi yang tinggi sehingga siswa dapat fokus dari awal hingga selesainya penerapan tipe tersebut. Manfaat dari tipe kotak adalah melatih siswa untuk bekerja sama dengan teman-temanya dan toleransi tinggi tidak mementingkan sifat egoisnya. Manfaat dari tipe-tipe tersebut adalah mengubah siswa dalam kelas yang biasanya pasif menjadi aktif. Melatih siswa dalam membagi-bagi tugas, melatih kekompakkan dalam kelompok, menciptakan rasa percaya terhadap kelompok, belajar bersabar, dan dapat menumbuhkan lagi mengembangkan pendidikan karakter pada siswa sekolah dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*